πŸ”₯ BREAKING
Selamat Datang di PenaHits.com - Referensi Digital Masa Kini

Mengalunkan Rote ke Dunia: Upaya Menjaga Eksistensi Sasando dan Budaya Gula Air

Kategori: Budaya 17 Dec 2025 19:30 17 views
Mengalunkan Rote ke Dunia: Upaya Menjaga Eksistensi Sasando dan Budaya Gula Air

Sasando - Rote

BA'A – Di balik deburan ombak selatan Indonesia, Kabupaten Rote Ndao terus memperkokoh posisinya sebagai pusat peradaban budaya di Nusa Tenggara Timur. Sebagai wilayah paling selatan Indonesia, Rote Ndao memiliki identitas budaya yang unik, mulai dari alat musik Sasando yang melegenda hingga tradisi memanjat pohon lontar yang menjadi urat nadi ekonomi warga.

Sasando: Warisan Leluhur yang Mendunia
Sasando, alat musik petik berdawai yang resonatornya terbuat dari anyaman daun lontar (Borassus flabellifer), tetap menjadi ikon utama daerah ini. Keahlian memainkan Sasando bukan sekadar seni, melainkan warisan turun-temurun yang melambangkan filosofi hidup masyarakat Rote yang harmonis.

"Sasando adalah jiwa kami. Memainkannya butuh rasa, dan kami berkomitmen agar generasi muda tidak meninggalkan alat musik ini demi musik modern," ujar salah satu maestro Sasando di Desa Oebelo. Saat ini, pemerintah daerah terus mendorong sekolah-sekolah untuk memasukkan seni musik tradisional dalam kurikulum muatan lokal.

Ti’i Langga: Simbol Kehormatan Pria Rote
Tak lengkap membahas Rote tanpa menyebut Ti’i Langga. Topi khas yang terbuat dari daun lontar kering ini memiliki ciri khas berupa "antena" atau jambul pada bagian atasnya. Dahulu, bentuk topi ini melambangkan strata sosial dan kepemimpinan. Kini, Ti’i Langga menjadi simbol nasionalisme dan kebanggaan yang selalu dikenakan dalam upacara adat maupun penyambutan tamu kehormatan.
Filosofi Pohon Lontar dan Gula Air
Budaya Rote juga sangat erat dengan Budaya Gula Air. Bagi masyarakat Rote, pohon lontar adalah "Pohon Kehidupan". Tradisi menyadap nira (iris tuak) yang kemudian diolah menjadi gula air, gula semut, hingga sopi (minuman tradisional), merupakan bagian dari identitas sosial.

Pengolahan nira ini dilakukan secara tradisional menggunakan kuali besar di atas tungku api, sebuah pemandangan yang kini mulai dikemas sebagai atraksi wisata budaya bagi para pelancong yang berkunjung ke perkampungan adat.

Upacara Adat Hus: Syukur atas Hasil Bumi
Salah satu perhelatan budaya paling kolosal di Rote Ndao adalah Upacara Adat Hus. Tradisi ini merupakan upacara syukur atas hasil panen dan doa untuk keberkahan ternak. Dalam prosesinya, ratusan warga berkuda dengan mengenakan pakaian adat lengkap dan Ti’i Langga, melakukan parade yang disebut dengan "Pacuan Kuda Tradisional".

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao berharap, melalui festival budaya tahunan, generasi muda tetap mencintai akar budayanya sekaligus menarik wisatawan mancanegara untuk melihat lebih dekat keramahan masyarakat di selatan Indonesia.

Redaksi PenaHits.com