Menara Langit di Tepung Samudra: Menelusuri Kedalaman Budaya dan Filosofi Kampung Adat Ratenggaro
Desa Adat Ratenggaro - Sumba Barat Daya
TAMBOLAKA, SUMBA BARAT DAYA – Di ujung pesisir selatan Kabupaten Sumba Barat Daya, sebuah pemandangan purba masih berdiri tegak menantang zaman. Kampung Adat Ratenggaro, yang terletak di Desa Umbu Ngedo, bukan sekadar deretan rumah kayu biasa. Desa ini merupakan jantung peradaban Marapu yang hingga kini masih berdenyut kencang di tengah gempuran modernitas. Keberadaannya menjadi bukti hidup bagaimana arsitektur, spiritualitas, dan alam dapat berpadu dalam sebuah harmoni yang magis.
Secara visual, mata setiap pengunjung akan langsung tertuju pada atap-atap rumah adat yang menjulang ekstrem. Rumah yang dikenal dengan sebutan Uma Kelada ini memiliki menara yang bisa mencapai ketinggian lebih dari dua puluh meter. Tinggi rendahnya atap tersebut bukan sekadar urusan estetika, melainkan sebuah pernyataan status sosial dan derajat penghormatan terhadap leluhur. Semakin tinggi menara sebuah rumah, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepada roh-roh suci yang diyakini bersemayam di puncaknya.
Struktur bangunan ini merupakan manifestasi dari kosmologi masyarakat Sumba tentang alam semesta. Di bagian paling bawah, yang bersentuhan dengan tanah, terdapat ruang bagi hewan ternak seperti kuda dan babi yang melambangkan dunia bawah. Di atasnya, ruang tengah menjadi pusat kehidupan manusia untuk memasak, bercengkrama, dan beristirahat. Sementara itu, ruang di dalam menara yang gelap dan tinggi dianggap sebagai tempat yang paling sakral, yakni dunia atas di mana benda-benda pusaka disimpan dan roh leluhur menetap.
Keunikan Ratenggaro tidak berhenti pada arsitektur rumahnya saja. Di sela-sela pemukiman, tersebar ratusan kubur batu megalitik yang usianya mencapai ribuan tahun. Batu-batu besar seberat berton-ton ini dipahat secara manual dan diletakkan di halaman kampung sebagai penghormatan terakhir bagi mereka yang telah tiada. Keberadaan makam yang menyatu dengan area tempat tinggal mencerminkan kepercayaan bahwa kematian bukanlah akhir dari hubungan keluarga, melainkan sebuah transformasi di mana leluhur tetap mengawasi dan melindungi keturunan mereka dari dekat.
Namun, menjaga warisan sebesar Ratenggaro bukanlah tanpa tantangan. Tokoh adat setempat mengungkapkan bahwa bahan-bahan alami seperti ilalang berkualitas untuk atap kini semakin sulit ditemukan. Selain itu, keterampilan membangun struktur kayu tanpa paku—yang hanya mengandalkan ikatan rotan dan pasak kayu—memerlukan regenerasi yang ketat agar tidak hilang ditelan zaman. Masyarakat adat kini berjuang menjaga keseimbangan antara membuka diri terhadap wisatawan dan mempertahankan kesakralan ritual-ritual Marapu yang menjadi nyawa dari kampung tersebut.
Pemerintah daerah pun mulai memandang Ratenggaro sebagai aset budaya yang tak ternilai harganya. Upaya perlindungan kini tidak hanya difokuskan pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat lokal agar mampu mengelola pariwisata secara mandiri tanpa merusak tatanan adat. Ratenggaro bukan hanya milik warga Sumba Barat Daya, melainkan sebuah fragmen sejarah manusia yang mengingatkan kita semua tentang akar kebudayaan yang kuat dan penghormatan terhadap alam semesta.
Redaksi PenaHits.com
Secara visual, mata setiap pengunjung akan langsung tertuju pada atap-atap rumah adat yang menjulang ekstrem. Rumah yang dikenal dengan sebutan Uma Kelada ini memiliki menara yang bisa mencapai ketinggian lebih dari dua puluh meter. Tinggi rendahnya atap tersebut bukan sekadar urusan estetika, melainkan sebuah pernyataan status sosial dan derajat penghormatan terhadap leluhur. Semakin tinggi menara sebuah rumah, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepada roh-roh suci yang diyakini bersemayam di puncaknya.
Struktur bangunan ini merupakan manifestasi dari kosmologi masyarakat Sumba tentang alam semesta. Di bagian paling bawah, yang bersentuhan dengan tanah, terdapat ruang bagi hewan ternak seperti kuda dan babi yang melambangkan dunia bawah. Di atasnya, ruang tengah menjadi pusat kehidupan manusia untuk memasak, bercengkrama, dan beristirahat. Sementara itu, ruang di dalam menara yang gelap dan tinggi dianggap sebagai tempat yang paling sakral, yakni dunia atas di mana benda-benda pusaka disimpan dan roh leluhur menetap.
BACA JUGA
Namun, menjaga warisan sebesar Ratenggaro bukanlah tanpa tantangan. Tokoh adat setempat mengungkapkan bahwa bahan-bahan alami seperti ilalang berkualitas untuk atap kini semakin sulit ditemukan. Selain itu, keterampilan membangun struktur kayu tanpa paku—yang hanya mengandalkan ikatan rotan dan pasak kayu—memerlukan regenerasi yang ketat agar tidak hilang ditelan zaman. Masyarakat adat kini berjuang menjaga keseimbangan antara membuka diri terhadap wisatawan dan mempertahankan kesakralan ritual-ritual Marapu yang menjadi nyawa dari kampung tersebut.
Pemerintah daerah pun mulai memandang Ratenggaro sebagai aset budaya yang tak ternilai harganya. Upaya perlindungan kini tidak hanya difokuskan pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat lokal agar mampu mengelola pariwisata secara mandiri tanpa merusak tatanan adat. Ratenggaro bukan hanya milik warga Sumba Barat Daya, melainkan sebuah fragmen sejarah manusia yang mengingatkan kita semua tentang akar kebudayaan yang kuat dan penghormatan terhadap alam semesta.
Redaksi PenaHits.com