Marapu: Akar Spiritual dan Sistem Kehidupan Masyarakat Sumba yang Diakui Negara
Masyarakat Sumba - NTT
SUMBA, NTT – Di tengah pesatnya modernisasi, masyarakat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap teguh memegang keyakinan spiritual dan sistem adat yang diwariskan oleh leluhur, yang dikenal sebagai kepercayaan Marapu. Jauh dari sekadar agama kuno, Marapu merupakan fondasi utama yang mengatur seluruh tatanan sosial, hukum adat, dan filosofi hidup masyarakat Sumba hingga kini.
Secara etimologi, Marapu dapat diartikan sebagai "yang dipertuan" atau "yang dimuliakan," merujuk pada arwah para leluhur yang diposisikan sebagai perantara antara manusia dengan Sang Pencipta Agung (Patawa atau Maha Dewa).
Pengakuan Resmi dan Perlindungan Hukum
Pada tahun 2017, status penganut kepercayaan Marapu—bersama dengan aliran kepercayaan lainnya—mendapat pengakuan signifikan dari negara menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 97/PUU-XIV/2016. Putusan ini memastikan bahwa penganut Marapu memiliki hak untuk mencantumkan kolom "kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa" pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka, sebuah langkah penting dalam perlindungan hak sipil dan budaya.
Pengakuan ini sangat vital di Sumba, mengingat Marapu menjadi landasan bagi eksistensi kampung-kampung adat, ritual perkawinan, kematian, dan sistem kekerabatan yang masih kuat.
Filosofi Inti: Menjaga Keseimbangan Tiga Dunia
Inti dari ajaran Marapu adalah menjaga keharmonisan dan keseimbangan antara tiga alam kehidupan:
Dunia Atas (Paraingu): Tempat bersemayamnya Marapu dan Sang Pencipta.
Dunia Tengah (Tana): Tempat manusia menjalani kehidupan di bumi.
Dunia Bawah (Pura): Dunia arwah yang belum mencapai kesempurnaan.
Ritual-ritual adat diselenggarakan untuk memastikan aliran komunikasi dan keseimbangan antara ketiga dunia tersebut berjalan lancar. Pelanggaran adat dipercayai akan menimbulkan ketidakseimbangan, yang berujung pada musibah. Penghormatan terhadap leluhur diwujudkan melalui persembahan di rumah adat (Uma Kalada) yang menjadi pusat spiritual.
Upacara Megalitik dan Peran Rato
Salah satu tradisi Marapu yang paling terkenal dan masih lestari di seluruh Sumba adalah upacara kematian yang kompleks, yang berpuncak pada pembangunan Kubur Batu Megalitik. Kubur batu (dolmen) besar yang dipahat ini bukan hanya penanda makam, tetapi simbol status sosial dan cara bagi roh untuk secara resmi bergabung menjadi Marapu.
Pengampu utama kepercayaan ini adalah para Rato (pemimpin ritual adat) dan tokoh-tokoh adat lainnya yang bertanggung jawab atas pemeliharaan hukum adat (tabel) dan pelaksanaan upacara-upacara besar seperti upacara penyucian tahunan menjelang musim tanam, yang dikenal dengan nama-nama lokal yang berbeda di tiap wilayah.
Meskipun menghadapi tantangan dari modernisasi, Marapu tetap menjadi pilar identitas Sumba. Pelestarian kepercayaan ini didukung oleh masyarakat adat dan pemerintah daerah, yang menyadari bahwa Marapu adalah kunci untuk menjaga kekayaan budaya unik Pulau Sumba.
Redaksi PenaHits.com
Secara etimologi, Marapu dapat diartikan sebagai "yang dipertuan" atau "yang dimuliakan," merujuk pada arwah para leluhur yang diposisikan sebagai perantara antara manusia dengan Sang Pencipta Agung (Patawa atau Maha Dewa).
Pengakuan Resmi dan Perlindungan Hukum
Pada tahun 2017, status penganut kepercayaan Marapu—bersama dengan aliran kepercayaan lainnya—mendapat pengakuan signifikan dari negara menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 97/PUU-XIV/2016. Putusan ini memastikan bahwa penganut Marapu memiliki hak untuk mencantumkan kolom "kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa" pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka, sebuah langkah penting dalam perlindungan hak sipil dan budaya.
Pengakuan ini sangat vital di Sumba, mengingat Marapu menjadi landasan bagi eksistensi kampung-kampung adat, ritual perkawinan, kematian, dan sistem kekerabatan yang masih kuat.
Filosofi Inti: Menjaga Keseimbangan Tiga Dunia
Inti dari ajaran Marapu adalah menjaga keharmonisan dan keseimbangan antara tiga alam kehidupan:
Dunia Atas (Paraingu): Tempat bersemayamnya Marapu dan Sang Pencipta.
BACA JUGA
Dunia Bawah (Pura): Dunia arwah yang belum mencapai kesempurnaan.
Ritual-ritual adat diselenggarakan untuk memastikan aliran komunikasi dan keseimbangan antara ketiga dunia tersebut berjalan lancar. Pelanggaran adat dipercayai akan menimbulkan ketidakseimbangan, yang berujung pada musibah. Penghormatan terhadap leluhur diwujudkan melalui persembahan di rumah adat (Uma Kalada) yang menjadi pusat spiritual.
Upacara Megalitik dan Peran Rato
Salah satu tradisi Marapu yang paling terkenal dan masih lestari di seluruh Sumba adalah upacara kematian yang kompleks, yang berpuncak pada pembangunan Kubur Batu Megalitik. Kubur batu (dolmen) besar yang dipahat ini bukan hanya penanda makam, tetapi simbol status sosial dan cara bagi roh untuk secara resmi bergabung menjadi Marapu.
Pengampu utama kepercayaan ini adalah para Rato (pemimpin ritual adat) dan tokoh-tokoh adat lainnya yang bertanggung jawab atas pemeliharaan hukum adat (tabel) dan pelaksanaan upacara-upacara besar seperti upacara penyucian tahunan menjelang musim tanam, yang dikenal dengan nama-nama lokal yang berbeda di tiap wilayah.
Meskipun menghadapi tantangan dari modernisasi, Marapu tetap menjadi pilar identitas Sumba. Pelestarian kepercayaan ini didukung oleh masyarakat adat dan pemerintah daerah, yang menyadari bahwa Marapu adalah kunci untuk menjaga kekayaan budaya unik Pulau Sumba.
Redaksi PenaHits.com