Batar Manaik, Tradisi Adat Pemersatu Masyarakat Malaka
Malaka - NTT
Malaka, Nusa Tenggara Timur — Masyarakat adat Wehali di Kabupaten Malaka hingga kini masih menjaga Tradisi Batar Manaik, sebuah upacara adat warisan leluhur yang menjadi simbol penghormatan, persatuan, dan rasa syukur masyarakat kepada pemimpin adat serta leluhur mereka.
Tradisi Batar Manaik biasanya dilaksanakan setiap tahun setelah musim panen jagung, umumnya pada bulan Agustus. Dalam tradisi ini, masyarakat dari berbagai kelompok suku datang membawa persembahan berupa hasil pertanian, hewan ternak, maupun benda bernilai lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Liurai Malaka.
Rangkaian upacara diawali dengan musyawarah adat antara Raja Liurai dan para tetua adat untuk menentukan waktu pelaksanaan. Setelah itu, para fukun adat diutus menyampaikan undangan kepada seluruh kelompok suku agar hadir dan berpartisipasi. Proses persiapan dilakukan secara simbolis, salah satunya melalui penggunaan tali bersimpul sebagai penanda hitungan hari menuju puncak acara.
Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul di rumah adat dengan mengenakan busana adat. Persembahan yang dibawa kemudian disusun secara tertib di pelataran rumah adat, disertai ritual penyambutan berupa sirih dan pinang sebagai lambang penghormatan dan ikatan persaudaraan.
Lebih dari sekadar ritual adat, Batar Manaik menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar kelompok suku di Malaka. Tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda, agar identitas dan kearifan lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah daerah setempat menilai Batar Manaik memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Dengan tetap menghormati nilai sakralnya, tradisi ini diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya Malaka kepada masyarakat luas, sekaligus memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur mereka.
Bagi masyarakat adat Wehali, Batar Manaik bukan sekadar upacara tahunan, melainkan wujud nyata hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur yang terus hidup hingga kini.
Redaksi PenaHits.com
Tradisi Batar Manaik biasanya dilaksanakan setiap tahun setelah musim panen jagung, umumnya pada bulan Agustus. Dalam tradisi ini, masyarakat dari berbagai kelompok suku datang membawa persembahan berupa hasil pertanian, hewan ternak, maupun benda bernilai lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Liurai Malaka.
Rangkaian upacara diawali dengan musyawarah adat antara Raja Liurai dan para tetua adat untuk menentukan waktu pelaksanaan. Setelah itu, para fukun adat diutus menyampaikan undangan kepada seluruh kelompok suku agar hadir dan berpartisipasi. Proses persiapan dilakukan secara simbolis, salah satunya melalui penggunaan tali bersimpul sebagai penanda hitungan hari menuju puncak acara.
Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul di rumah adat dengan mengenakan busana adat. Persembahan yang dibawa kemudian disusun secara tertib di pelataran rumah adat, disertai ritual penyambutan berupa sirih dan pinang sebagai lambang penghormatan dan ikatan persaudaraan.
BACA JUGA
Lebih dari sekadar ritual adat, Batar Manaik menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antar kelompok suku di Malaka. Tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda, agar identitas dan kearifan lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah daerah setempat menilai Batar Manaik memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya. Dengan tetap menghormati nilai sakralnya, tradisi ini diharapkan dapat memperkenalkan kekayaan budaya Malaka kepada masyarakat luas, sekaligus memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur mereka.
Bagi masyarakat adat Wehali, Batar Manaik bukan sekadar upacara tahunan, melainkan wujud nyata hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur yang terus hidup hingga kini.
Redaksi PenaHits.com